Peran Polisi menyikapi Tawuran di jakarta (analisa psikologi )

Standar

Dua tawuran antar warga terjadi di Johar Baru, Jakarta Pusat dalam waktu yang hampir bersamaan, Minggu (17/7/2011). Meski tidak ada korban jiwa dalam lima tawuran itu, namun satu mobil warga dan satu mobil patroli Polsek Metro Johar Baru dirusak massa. Tawuran pertama terjadi sekira pukul 17:00 WIb, di Jalan Kawi-Kawi Bawah antara warga RW. 08 dengan warga RW. 01 Kelurahan Johar Baru. Tawuran yang menggunakan batu, botol, kayu, petasan ini mengakibatkan mobil sedan Toyota milik warga Nopol B-2861-WS mengalami pecah kaca. Dalam peristiwa ini,petugas mengamankan seorang pelaku bernama Daniel Hutagaol, kini masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Metro Johar Baru. (Sumber:DITRESKRIMUM )Tawuran kedua terjadi di Jalan T Kampung Rawa Rt. 05/03 Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, sekira pukul 23:10 WIB. Tawuran terjadi antara warga RW. 03 dengan warga RW. 04 Kampung Rawa. Tawuran ini juga menggunakan batu botol, anak panah dan petasan. Dalam peristiwa ini pintu rolling door milik warga mengalami rusak. Mobil patroli Polsek Metro Johar Baru yang melakukan pengamanan lokasi juga dirusak massa hingga kaca belakang mobil pecah. Aksi tawuran ini berhasil dikendalikan pada pukul 23:25 WIB. Petugas Polsek Metro Johar Baru masih melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus ini.

Polri sebagai organisasi jasa pelayanan publik yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat serta penegakkan hukum merupakan profesi dengan memiliki beban tugas yang tinggi. Polisi dianggap sebagai institusi birokrasi yang menjadi kepanjangan tangan pemerintah dan selalu dihadapkan pada residu persoalan sosial yang serba kompleks. Artinya imbas dari berbagai pergolakan politik, ekonomi, dan persoalan sosial yang menyebabkan pada tingkat kesulitan hidup masyarakat hampir selalu berhadapan dengan tugas-tugas kepolisian termasuk diantaranya demonstrasi atau unjukrasa sampai pada tawuran pelajar dan pekelahian warga.

Perilaku kelompok atau saksi rusuh masa memiliki ciri khas serta memiliki dinamika tersendiri sehingga hampir selalu berakibat pada perilaku anarkis dalam waktu sekejap, artinya petugas selalu dihadapkan pada situasi yang fluktuatif dan situasi di lapangan sewaktu-waktu dapat berubah menjadi tidak terkendali (chaos). Hal ini membuat seolah-olah petugas menjadi bulan-bulanan situasi saat menghadapi aksi massa, bahkan dalam situasi tertentu justru menjadi bagian dari massa itu sendri dan secra emosional bertindak spontan, larut dan bereaksi konfrontatif terhadap massa.

Situasi tersebut sangat natural dan alami sepanjang situasi dan cara bertindak masih dalam mekanisme kontrol serta berpedoman pada SOP (Standart Operating Prosedur), persoalannya adalah siapa yang mampu menjamin kondisi tersebut selalu terkendali dan bagaimana cara mengeliminir situasi massa untuk selalu terpetakan saat demi saat. Situasi dan kondisi lapangan akan selalu berbeda namun Lanjutkan membaca

Iklan