Tahta Bhayangkara

Standar

Bhayangkara selalu dihadapkan dengan tantangan yaitu harta ,tahta dan wanita .Itulah kerikil yang selalu membuat orang – orang hebat di dunia ini jatuh .Sama dengan kehidupan bhayangkara yang hebat juga bisa terpleset karena harta ,tahta dan wanita ,karena ‘polisi juga manusia “.Saya ga akan membahas dari  harta dan wanita  tetapi lebih membahas  dengan Tahta ,apakah hakikat dari tahta ?

Hakikat tahta dan kedudukan adalah penguasaan terhadap hati orang lain sehingga tunduk kepadanya karena tahtanya, dan memujinya dengan ucapan serta berusaha memenuhi segala keinginannya sesuai perintahnya. Seperti harta, maknanya adalah kepemilikan kedudukan demi mencapai tujuan-tujuannya.Tahta merupakan penguasa hati. Hanya saja, tahta lebih dicintai dibanding harta, karena bisa mendatangkan harta kekayaan. Hal itu disebabkan beberapa faktor, antara lain:

Dengan tahta, orang akan lebih mudah untuk meraup harta kekayaan, tetapi belum tentu dengan kekayaan seseorang dapat meraih jabatan secara mudah.contohnya kalo dalam kehidupan bhayangkara menjabat “Tahta yang basah” seperti Jabatan yang berhubungan dengan golongan masyarakat yang memiliki uang banyak biasanya menjadi rebutan karena yang ingin cepat kaya. Penyidik kejahatan ekonomi  ,pajak ,penipuan ,biasanya masuk kategori ini. Maka bukan hal aneh jika penyidikan kasus gayus tambunan   diduga melibatkan para penyidik  yang kini ditengarai penuh dengan kegiatan suap menyuap yang besarannya juga fantastis dan melibatkan beberapa penyidik polisi.Dugaan itu kini sedang diselidiki oleh tim independen dan satgas mafia hukum.
Mengapa” Tahta yang basah “ini menjadi rebutan atau idaman atau harapan bagi bhayangkara  ? karena di tahta  yang kering tidak mempunyai kewenangan atau kekuasaan yang dapat digunakan dengan salah atau disalah gunakan demi keuntungan atau pendapat yang berlimpah ruah, walaupun pekerjaan yang dilakukan itu mulia dan besar jasanya bagi hidup dan kehidupan manusia. Tetapi tentu dianggap kerja konyol, sia-sia dan tak ada gunanya karena tidak menghasilkan dan dianggap sepele atau bahkan dianggap sampah oleh pimpinannya.

Di tempat-tempat yang kering inilah tugas dan kerjaan yang sebagaimana seharusnya justru dikesampingkan dan dianggap tidak penting. Anggapan yang beredar dan berkembang adalah percuma kalau hanya banyak pendapat tapi pendapatan kurang. Ini memang aneh, aneh bin ajaib. Yang betul kalau tidak umum maka dianggap salah dan yang salah bila sudah menjadi keyakinan orang banyak itulah yang benar.

Ini jelas lelucon yang tak lucu dan juga tak akurat. Polisi yang hidup sederhana, bekerja keras dalam tugasnya sambil melakukan pekerjaan sampingan halal di luar jam kerja, sebenarnya masih cukup banyak. Hanya, pemerintahan korup di masa lalu menyebabkan bhayangkara  seperti ini sulit menduduki posisi penting. Biasanya yang berotak cemerlang terbatas hanya memegang jabatan kering seperti bidang pendidikan dan forensik. Adapun yang fisiknya prima dan punya bakat trengginas kadang kala masuk ke kesatuan pemukul seperti unit pengendali massa atau antiteror.

Tahta Bhayangkara  boleh silih berganti. Musim bisa saja terus berlalu dan berganti, namun bila nilai-nilai yang diyakini masih pada yang duniawi, yang materi, tanpa kesadaran, keberanian serta kerelaan dari yang berkuasa dan yang mempunyai kuasa untuk berubah atau mulai perubahan maka jangan harap ada titik terang, yang muncul justru sebaliknya kegelapan yang semakin kelam dan mendalam dan tak tahu ujung tujuan. Tuaian akan hanya hujatan dan cacian, sumpah serapah,dan turunnya terus citra bhayangkara .

Ini hanya sebuah tulisan yang diamati dari pilihan kehidupan   , karena kehidupan selalu menawarkan pilihan dengan rasa manis dan pahitnya .Senantiasa ada tempat dan panggilan bagi setiap mau berpikir dan berbuat ,dengan kejujuran ,kedewasaan ,dan keutuhan .Tempat  untuk tinggal di dalam sistem ataupun diluar sistem adalah pilihan kebetulan saya bisa mengamatinya dari dalam sistem semoga saya tidak sia-sia berada disini.Karena setiap pilihan ,dimanapun tempatnya sebagai jalan membawa resikonya sendiri karena saya bukan dalang hanya menjadi wayang menjadi gareng ,semar ,Petruk .tetapi  pilihan sebagai wayang  untuk masalah tahta ini  Dalam Kelebihan atau kekurangan ,dalam kekayaan atau kemiskinan ,dalam senang ataupun susah ,dalam sakit ataupun sehat ,kita menjalani kehidupan yang rapuh karena itu harus selalu bersyukur,dan selalu yakin Semua indah pada waktunya,

Iklan