character FIRST !!taruna akan menjadi seorang perwira!

Standar

 interogasi oleh Polisi

interogasi oleh Polisi

APAPUN  yang dikatakan orang,percayalah gagasan dan kata-kata serta tulisan dapat mengubah dunia .”

Untuk menghadapi tantangan polri saat di wilayah Taruna akan dihadapkan tantangan internal daneksternal.Tantangan intenal adalah perilaku dan budaya organisasi POLRI seperti korupsi dan perilaku anggota . Kendati Kapolri pada saat itu  Jenderal Pol Sutanto mengaku legowo dengan hasil survey Transparansi Internasional Indonesia (TII) yang menempatkan Polri sebagai institusi terkorup namun hal itu tidak membuat urusan langsung selesai, hasil surveynya yang dilabeli Global Corruption Barometer (GCB). Dalam survey itu Polri menduduki posisi “jawara” korupsi dengan indeks 4,2 disusul  parlemen dan lembaga peradilan di nomor dua dengan indeks 4,1 serta partai politik dengan indeks 4,0. (GATRA .COM,11/12/2007).Hasil survey ini memang tidak mutlak  tetapi hasil survey ini untuk memperbaiki citra tentang POLISI.Hasil survey ini mengindikasikan bahwa upaya POLRI untuk melakukan reformasi bukanlah pekerjaan yang mudah .Tetapi kita sebagai pengasuh dan juga anggota POLRI optimis dengan reformasi  birokrasi Kepolisian karena jajaran pimpinan Polri yang sudah berusaha berubah dimulai dari pimpinan POLRI  Kapolri yang dalam pidatonya tanggal 1 juli 2009″ Menyadari hal ini maka Polri telah bertekad kuat untuk melaksanakan perubahan – perubahan yang fundamental, konseptual dan konsisten terhadap berbagai aspek organisasi dalam bingkai reformasi Polri. Oleh karena itu tambahnya, pada kesempatan yang berbahagia ini, ijinkanlah kami menyampaikan beberapa Pokok Pikiran Menuju Polri Masa Depan dengan memperkokoh Citra Polri yang “ Tegas – Humanis “ sebagai dasar untuk membangun kemitraan.Pokok pikiran pertama bahwa : “Reformasi Polri Sebagai Bagian Dari Reformasi Birokrasi”, berangkat dari pemahaman pada tantangan yang dihadapi Polri seiring dengan perkembangan lingkungan strategis baik pada tataran local, nasional maupun global yang disadari sepenuhnya akan semakin berat.(sumber :Komisi kepolisian indonesia).Tantangan ekternal taruna yang akan dihadapi  berupa dinamika masyarakat regional dan global yang selalu bersentuhan langsung dengan tugasnya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat. Tingkat kejahatan yang selalu meningkat dari segi kualitas dan kuantitas membutuhkan profesionalisme polri, sehingga kehidupan yang aman, nyaman, dan tertib dapat terwujud.Oleh sebab itu Taruna harus mengerti bahwa saat mereka menjadi perwira mereka memiliki tanggung jawab yang sangat besar.Selain menjalankan tugas menjaga keamanan dan melindungi masyarakat polisi juga harus menjaga dirinya agar tidak menyalahgunakan wewenang yang dimiliki .Seperti kata Socrates Polisi,Jika tidak menjaga kwenangannya dengan baik ,polisi bukanya melindungi masyarakat ,namun justru menghancurkannya .Hasil survey TII telah menunjukan bahwa masyarakat menganggap polisi sudah banyak menyakiti karen mengedapankan kewenangan dalam menjalankan tugasnya seperti  perilaku seperti “86 atau prit jigo”.Namun kondisi ini menjadi cambuk bagi proses perbaikan POLRI melalui Akselerasi Reformasi Polri sesuai panduan yang diarahkan dalam peraturan Meneg Pan, Nomor : Per/15/M.Pan/7/2008 dan diperkuat dengan keputusan Kapolri No.Pol : Kep/37/X/2008. kemudian dibentuk Pokja reormasi Birokrasi Polri, yang meliputi bidang budaya dan manajemen perubahan, bidang organisasi dan tata laksana, bidang QUICK WINS, bidang manajemen sumber daya manusia dan remunerasi, serta bidang evaluasi kinerja dan profil Polri 2025.Namun kenyataan yang akan dihadapi lapangan Taruna yang akan menjadi perwira akan menghadapi budaya informal anggota dari institusi POLRI menurut Reiner(1992) “Kunci perunbahan terletak pada budaya informal Polisi :perilaku mereka dilapangan seperti budaya 86 ,lapor kambing hilang kandangnya,tidak responsif kalau tidak ada uang bensinya,uang rokok dll.kesimpulannya perilaku yang akan ditanamkan kepada taruna adalah pembentukan karakter pada individu per individu yang nanti akan menjadi perwira supaya tidak terkontaminasi dengan budaya informal dan bisa menjadi agen perubahan POLRI  dengan membuat budaya informal yang bernuansa yang baru pada unit yang akan dipimpinnya sehingga dapat meraih hati masyarakat dan memulihkan luka yang telah tertancap lama .,

semoga pembentukan karakter kepada taruna  ini dapat dilaksanakan oleh kami sebagai pengasuh  dengan niat yang tulus bahwa menjadi polisi bukan sekedar pekerjaan ,mengejar setoran atau materi .Tetapi pengabdian ;A Way Of Life