pengawasan kegiatan pengasuhan Taruna Akpol

Standar

mengasuh Taruna AKPOL

mengasuh Taruna AKPOL

KEPEMIMPINAN adalah ACTION bukan POSITION !!

Sebelum saya menuliskan peranan pengasuh Pengawasan dan pengendalian dankietar terhadap Taruna sebagai calon Pimpinan Polri di masa depan sesuai dengan model Polisi yang diharapkan oleh masyarakat saat ini yaitu sosok Polisi yang humanis ,tegas dan selalu menjunjung tinggi hak asasi manusia. Tugas saya saat ini yaitu sebagai pengasuh /pembina korps taruna Akpol , tidak ada salahnya saya memperkenalkan dan menceritakan riwayat jabatan saya sebelum bertugas di AKPOL . Nama saya adalah Dwiasi Wiyatputera SH,SIK lahir di Ambon Setelah saya lulus dari Akademi Kepolisian tahun 2002 dengan nama Batalyon Wicaksana Laghawa,penempatan saya pertama di Polda Sulawesi Utara tepatnya sebagai Ka SPK Polresta Bitung tahun 2003 setelah  menjadi Kanit Reskrim Polsek Bitung Tengah tahun 2003-2004 ,saya menjadi Kanit Reskrim KPPP Bitung pada tahaun 2004-2006 kemudian saya dipercayakan menjadi Kapolsek di Bitung Timur tahun 2006-2007 setelah itu saya mendapatkan kepercayaan menjadi Kanit Jatanras Sat Reskrim Poltabes Manado tahun 2007 terakhir saya dipercayakan menjadi Kasat Reskrim Polres Tomohon 2007 -2008 .Kemudian setelah kurang lebih 5(lima ) setengah tahun bertugas .Pada Tahun 2007 saya mengikuti seleksi dan puji TUHAN saya lulus untuk mengikuti  pendidikan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta selama setahun satu bulan untuk karena PTIK merupakan Pendidikan pengembangan karier untuk mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Kepolisian (SIK) .Pada saat lulus PTIK saya dipercayakan untuk ditempatkan di AKADEMI KEPOLISIAN yang merupakan almameter saya sebagai Dankietar (kamandan Kompie Taruna )di Akademi Kepolisian bersama 7 (tujuh ) perwira lainnya ,kami berdelapan adalah rangking 10 besar dari PTIK jadi merupakan kebanggaan terbesar bagi kami untuk bertugas di almamater kami sendiri untuk membina dan membentuk karakter dan perilaku Taruna untuk mempersiapkan calon-calon Pimpinan Polri di masa depan sesuai dengan harapan masyarakat sesuai dengan Grand Strategi Polri 2005-2025

Fungsi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagaimana diatur dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 merupakan salah satu fungsi pemerintahan negara dibidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat,penegak hukum,perlindungan,pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat.Dalam menjalankan fungsinya tersebut Polri sebagai salah satu organisasi yang memberikan pelayanan kepada publik,seperti yang diatur dalam pasal 7 UU No 2 tahun 2002 merupakan susunan organisasi yang disesuaikan dengan kepentingan pelaksanaan tugas dan wewenangnya baik dari tingkat Markas Besar Polri maupun tingkat kewilayahan(Polda,Polwil,Polres dan Polsek).Sebagai sebuah organisasi tentunya Polri tidak bisa melepaskan dari sebuah manajemen umum dalam mengatur rumah tangga organisasi dan pelaksanaan tugasnya sebagai pelayan masyarakat.

Hal tersebut senada dengan prinsip manajemen yang diutarakan oleh George R Terry yang terdiri dari fungsi pokok: (1) Planning atau perencanaan, (2) Organizing atau pengorganisasian, (3) Actuating atau pelaksanaan dan (4) adalah Controlling atau pengendalian.Didalam menerapkan manajemen dari Terry tersebut,Polri menerapkannya sebagai bagian utuh dari fungsi manajemen umum dan tidak memisahkannya sebagai satu kesatuan yang saling membantu dalam pencapaian tujuan organisasi.Dalam pelaksanaannya fungsi manajemen ini berlaku dari kesatuan tingkat Mabes Polri sampai ke tingkat Polres sebagai KOD (Kesatuan Operasional Dasar) dan terakhir di tingkat Polsek.Apabila kita membahas salah satu fungsi pokok dari manajemen umum yaitu ‘Pengendalian” yang kita implementasikan dalam pelaksanaan tugas Polri,tidak ada salahnya kita mengetahui pengertian dari “pengendalian” terlebih dahulu.

Pengendalian merupakan fungsi manajemen yang dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai aspek kehidupan yang pada hakekatnya merupakan kegiatan /proses untuk memastikan/menjamin apakah pelaksanaan sesuatu sesuai dengan rencana atau tidak. Untuk memastikan bahwa semua kegiatan dalam suatu organisasi berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan, manajer dalam hal ini pimpinan Polri harus mampu memantau kinerja organisasi tersebut. Kinerja yang seharusnya harus dibandingkan dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Apabila terjadi penyimpangan dari tujuan tersebut, maka tugas manajer atau pimpinan Polri adalah meluruskan kembali pernyimpangan tersebut kearah tujuan semula.Sebagai perwira Polri yang dalam hal ini mempunyai tugas dan tanggungjawab yang penuh terhadap anak buah,kita harus bisa melakukan pengawasan dan pengendalian dengan baik,sehingga rencana yang sudah ditetapkan bersama,dapat kita wujudkan dengan komitmen bersama dalam mencapai tujuan.

Dalam pelaksanaan tugas sebagai Perwira Polri di Akademi Kepolisian dengan jabatan Komandan Kompie Taruna (Dankietar) tentunya sangat relevan dan penting sekali dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian terhadap Taruna Akpol.Karena Taruna Akpol sebagai kader penerus generasi muda pimpinan Polri dimasa yang akan datang harus mendapatkan pelajaran dan didikan yang disiplin dari pengasuhnya atau Dantontarnya.Hal tersebut merupakan tugas sekaligus amanah yang berat bagi saya,sehingga dalam memberikan pengawasan melekat dan pengendalian harus efektif.Disamping melakukan pengawasan dan pengendalian kepada Taruna Akpol,sebagai Komandan Kompie Taruna harus bisa memberikan teladan baik sikap,tingkah laku dan pengetahuan yang berharga bagi bekal mereka dalam melaksanakan tugas di kewilayahan kelak nantinya..

Menurut Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia terutama pada pasal 15 ayat (1) disebutkan bahwa Akademi Kepolisian adalah unsur pelaksana pendidikan pembentukan Perwira Polri yang berada dibawah Kapolri,dengan ayat (2) Akpol bertugas menyelenggarakan pendidikan pembentukan Perwira Polri yang bersumber dari masyarakat umum.Senada dengan itu juga Kebijakan Kapolri Jenderal Sutanto di Bidang Sumber Daya Manusia, salah unsur yang menjadi perhatian dari Kapolri adalah peningkatan kualitas pendidikan Polri yang diprioritaskan pada kualitas calon siswa yaitu calon Taruna Akademi Kepolisian, tenaga pendidik serta pembenahan sistem pendidikan Polri itu sendiri. Hal ini merupakan perwujudan dari aspirasi masyarakat yang menuntut adanya peningkatan kualitas dari anggota Polri itu sendiri dengan harapan agar Polri semakin profesional dalam melaksanakan tugasnya.

Di Akademi Kepolisian juga dijadikan lembaga pendidikan Polri yang secara khusus memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan dasar kepolisian dengan out put perwira Polri setingkat first line supervisor. Selain itu juga menanamkan mental dan doktrin khas kepolisian sebagai sebagai bekal filosofis dan ideologis bagi lulusannya. Sehingga Perwira Polri yang dihasilkan oleh Akademi Kepolisian diharapkan mampu mengemban tugas sebagai first line supervisor yang mahir, terpuji dan patuh hukum.Didalam menyiapkan Perwira Polri yang seperti yang diharapkan tersebut tentunya diperlukan dukungan pengasuhan oleh pengasuh taruna Akpol yang berkualitas.

Kebetulan pada bulan Juni tahun 2009 saya bersama 8 Perwira lainnya yang seangkatan dengan saya yaitu lulusan Akademi Kepolisian tahun 2002 diperintahkan Kapolri melaksanakan tugas untuk mengabdikan diri di lembaga Akpol setelah lulus PTIK .Kami yang diperintahkan sebagai Dankietar Akpol memiliki rangking PTIK 10 besar.Hal ini senada dengan kebijakan Kapolri dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia harus disiapkan secara dini baik dari masa perekrutan sampai pada tahap pembentukan,sehingga output yang dihasilkan bisa lebih baik.

Menurut Surat Keputusan Gubernur Akademi Kepolisian No Pol : /I/2007 tanggal Januari 2007 tentang Pengesahan Pedoman Pengasuhan Taruna Akademi Kepolisian bahwa subyek pengasuhan terdiri dari 2 (dua) subyek yaitu :subyek yang mengasuh dan subyek yang diasuh.Subyek yang mengasuh atau pengasuh terdiri dari Pengasuh langsung dan Pengasuh tidak langsung serta Taruna Senior yang diberi kewenangan dalam mengasuh secara terbatas.Menurut Skep Gubernur Akpol tahun 2007 teknik pengasuhan dilaksanakan dengan kegiatan (Pembinaan, Bimbingan dan Konsultasi serta Pengawasan dan Pengendalian ).Sebagai pengasuh Taruna Akademi Kepolisian didalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang sudah dibebankan secara pokok, seperti mendidik dan mengasuh Taruna,masih harus melaksanakan piket sebagai berikut: Sebagai Pengasuh Taruna Akpol saya melaksanakan piket sebagai berikut:

1) Perwira Pengawas Korps(Pawaskor)

Dilaksanakan oleh 1 orang Perwira mulai pukul 08.00 WIB s/d 08.00 WIB atau selama 24 jam. Tugas dari Pawaskor adalah mengawasi kegiatan Taruna di luar jam perkuliahan, memberikan petunjuk tentang kegiatan Taruna pada hari itu, bertanggungjawab terhadap situasi di lingkungan Korps Taruna (seluruh detasemen ) atau resimen agar tetap kondusif dalam rangka menunjang pelaksanaan pengasuhan terhadap Taruna, mengontrol Taruna yang dirawat atau berobat ke Rumah Sakit Akpol mengisi buku mutasi Pawaskor serta membuat laporan secara tertulis kepada Kakortarsis.

2) Perwira Pengawas Kelas (Pawas Kelas)

Dilaksanakan oleh 1 orang Perwira per- unit kuliah. Biasanya dalam 1 hari terdiri dari 5 unit, jadi Pawas Kelas dilaksanakan oleh 5 Perwira dalam sehari. Tugas dari Pawas Kelas adalah mengawasi kegiatan perkuliahan Taruna, membantu kelancaran kegiatan perkuliahan Taruna, dan mengisi buku mutasi Pawas Kelas.

Secara rinci tugas dari seorang Perwira Pengawas Korps Taruna adalah sebagai berikut:

  • Melaksanakan serah terima diruang Pawaskor dengan segala tugas yang diturunkan dari piket Pawaskor lama ke Pawaskor baru yang segera dilaksanakan pada piket baru tersebut. dilakukan pada pukul 08.00 WIB.
  • Setelah melaksanakan serah terima Pawaskor mengecek mutasi seluruh Pawasden dari tingkat 1 sampai dengan Pawasden tingkat 3 tentang jumlah Taruna yang ijin meninggalkan kesatrian,ijin KSA atau sakit dan ijin penting lainnya yang perlu diketahui oleh Perwira Pengawas Korps Taruna agar laporan kepada Kakortarsis atau pimpinan lainnya bisa jelas.
  • Melakukan pengecekan terhadap barang inventaris yang sudah diturunkan oleh piket Pawaskor lama.Hal tersebut diperlukan karena pengawasan terhadap barang inventaris yang ada diperlukan untuk melihat kondisi terakhir barang tersebut,masih ada atau tidak dan digunakan terakhir untuk tugas dan tujuan apa.
  • Mengecek pelaksanaan jaga kamar(jakam) tiap-tiap kompi Taruna yang sedang piket,apakah Taruna piket tersebut sudah melaksanakan tugas dan tanggungjawab dengan baik serta mengecek mutasi jakam tersebut yang digunakan agar pelaksanaan tugas Taruna bisa berjalan dengan baik dan memberikan pelajaran agar nantinya melakukan piket di kewilayahan dilakukan dengan benar.
  • Memimpin pelaksanaan apel siang dengan memberikan arahan dan evaluasi kegiatan yang sudah dilakukan dan memberitahukan kegiatan selanjutnya serta memimpin pelaksanaan pembinaan fisik sebelum pelaksanaan makan siang.
  • Memimpin pelaksanaan makan siang dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya,agar pelaksanaan makan siang dapat berjalan dengan baik dan teratur.
  • Melaksanakan pengecekan olahraga umum (oraum) pada sore hari setiap kecabangan,agar pelaksanaan olahraga umum dilakukan Taruna secara teratur agar fisik Taruna dapat terbentuk dengan baik dan sehat selalu.
  • Mengecek pelaksanaan ibadah shalat magrib berjamaah , walaupun sebenarnya pelaksanaan shalat tersebut bagi Taruna merupakan kewajiban seorang muslim kepada Sang Khalik.
  • Mengecek pelaksanaan makan malam Taruna,dengan mengawasi setiap aktivitas yang dilakukan Taruna pada waktu makan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada waktu pelaksanaan makan malam tersebut.
  • Melaksanakan pengecekan terhadap kegiatan wajib belajar Taruna dengan memberikan pengetahuan atau memberikan teladan,bahwa setiap melaksanakan piket Pawasden saya memberi contoh secara tidak langsung dengan ,membawa buku dan membacanya,agar Taruna merasa arahan tersebut memang sudah kita laksanakan sebelumnya.
  • Memimpin pelaksanaan apel malam Taruna dan melakukan evaluasi kegiatan –kegiatan yang sudah dilakukan dari pagi sampai malam hari serta melakukan koreksi sikap-sikap Taruna yang masih salah,serta memberikan arahan pengetahuan yang bermanfaat bagi pelaksanaan tugas berikutnya di kewilayahan.
  • Memimpin pelaksanaan serah terima jaga serambi Taruna serta memberikan arahan tentang bagaimana jaga serambi yang benar dan tidak tidur pada waktu melaksanakan tugas tersebut.
  • Melakukan pengecekan terhadap tidur atau istirahat malam Taruna serta melakukan pengecekan kegiatan jaga serambi agar lingkungan Akademi Kepolisian bisa aman terkendali.
  • Memimpin pelaksanaan serah terima jaga serambi dari piket jaga serambi yang lama kepada jaga kamar yang akan melaksanakan tugas berikutnya.
  • Memimpin pelaksanaan makan pagi Taruna dengan arahan bahwa makan pagi agar dilaksanakan dengan benar dan menciptakan suasana ruang makan sebagai tempat bertukar informasi bagi Taruna senior dengan Taruna yunior.
  • Memimpin pelaksanaan apel pagi dengan memberikan arahan terhadap kegiatan yang akan dilakukan seperti pelaksanaan kuliah secara teratur dan sesuai aturan dan kegiatan lain yang sudah diatur perduptar.
  • Melaksanakan serah terima piket Pawaskor lama kepada piket Pawaskor baru dengan memberikan informasi kepada piket baru tentang situasi dan kondisi lingkungan,Taruna,kegiatan Taruna dan perintah lain dari pimpinan.

Kalau kita melihat latar my smilebelakang masalah dan pembahasan diatas disebutkan bahwa fungsi pengendalian termasuk dari fungsi manajemen secara umum menurut George R Ferry,maka perlu kita safari bahwa fungsi pengendalian memang sangat penting dilakukan. Pengendalian adalah fungsi terakhir dari manajemen operasional.Yang merupakan fungsi untuk memastikan apakah rencana organisasi yang tertuang dalam tujuan dan sasaran dapat tercapai. Selain itu fungsi ini juga memastikan bahwa kegiatan – kegiatan organisasi berjalan sesuai perencanaan, peraturan dan kebijakan pimpinan serta mengidentifikasi hal –hal yang menghambat atau menganggu jalannya kegiatan operasional yang telah direncanakan tersebut.

Fungsi pengendalian kalau kita implementasikan pada pelaksanaan tugas saya yang terakhir sebagai komandan Kompie Taruna memang sangat cocok dan penting dilakukan untuk mengawasi dan mengendalikan segala aktivitas atau kegiatan Taruna, agar kegiatan para calon pemimpin Polri ini sesuai dengan harapan Pimpinan Polri dan sesuai kebijakan Kapolri untuk membentuk perwira Polri yang mahir,terpuji dan patuh hukum…..yang kami ingin terapkan pada pengasuhan kepada Taruna adalah Pengasuh sebagai Penyebar pengetahuan ,pelatih ketrampilan dan perancang pengalaman belajar kreatif bagi taruna Akpol…mohon doa agar kami bisa mengemban amanah ini,mohon saran dan masukannya .

Bila sekedar mendengar,saya akan lupa .Setelah saya melihat,barulah saya mengingat Dan setelah mengerjakan ,barulah saya bisa memahami ….

info seleksi calon taruna

Standar
Taruna

Taruna

Seluruh calon taruna akan mengikuti seleksi Panitia Pusat sampai dengan tanggal 15 agustus di Akademi Kepolisian Semarang .Sebanyak 605 calon taruna sudah berada di Akpol ,seluruhnya berasal dari seluruh Polda di Indonesia .kuota yang akan diterima sebanyak 300 calon taruna yang akan dibagi mengikuti pendidikan Perwira Polri Sumber Sarjana ,Sekolah Inspektur Polisi dan Taruna Akademi Kepolisian .semoga seleksi calon taruna bisa transparan ,akuntabel dan Profesional supaya Calon taruna atau siswa yang diterima dapat menjadi calon-calon perwira Polri yang bersikap dan mempunyai Karakter model Polisi yang diharapkan oleh masyarakat sesuai dengan Grand Strategi Polri yaitu trust building hingga strive for exccellence..AMIEN

seni dalam mengasuh Taruna

Standar
tekanan stress

tekanan stress

Presure Can Be useful
mengapa saya menggunakan adagium diatas karena dalam pengasuhan taruna pengasuh harus melakukan tekanan dalam menyampaikan pesannya dalam bertujuan membentuk sikap dann karakter taruna karena taruna pada saat lulus menjadi perwira akan dihadapkan kepada tanggung jawab dan tantangan yang tidak ringan ,Di lapanagan dalam memimpin anggota yang lebih tua umurnya bila pimpinan nya gampang menyerah maka tugas pokoknya tidak akan diselesaikan ,Ini terjadi pada pengalaman saya saat melaksanakan tugas mengungkap kasus pembunuhan yang sangat gelap di polsek bitung tengah hanya dengan modal kegigihan dan kemauan kasus pembunuhan bisa diungkap karena anggota yang berpengalaman bila dipimpin oleh komandan yang mereka anggap sebagai pimpinan yg mereka banggakan dan berkarakter mereka akan melakukan tugasnya dengan sepenuh hati.Motivasi Kemauan, pantang menyerah dan malu bila tugas tidak berhasil saya dapatkan pelajaran berharga saat menjadi taruna contoh kecil ada rekan saya yang tidak kuat lari tetapi dia akan menjadi kuat melaksanakan “lari Gembira” yang dilakukan oleh semua taruna menghadapi tanjakan superman ,tanjakan patah hati karena doktrin dari pengasuh maupun senior taruna semuanya sama “makannya nasi!”bila didepan rekanmu bisa maka kamu juga harus bisa!!itu yang menjadi motivasi bagi rekan saya yang menjadi rangsangan (stimulus) sehingga rekan saya yang tidak kuat lari menjadi bisa lari bersama-sama .
Dalam merubah sikap Taruna ada beberapa teori yang menjadi dasar yaitu
a.Teori Stimulus -respons (aksi-reaksi)
tiga variabel yg penting : stimulus–(perhatian -pengertian -penerimaan )–reaksi

b.teori social -judgement (pengambilan pertimbangan)
1.pendekatan asimilasi
2.adaptasi.

c.teori consistensy (keseimbangan)
1.perasaan senang atau tidak senang
2.pembentukan kesatuan hubungan

d.teori fungsional (fungsi )
1. social adjustment yg didiarahkan kepada social relationship
2.externalization
3. object appraisal
4.quality of expression

Peranan pengasuh adalah sebagai sumber komunikasi(komunikator) yang merupakan faktor utama yang sangat berpengaruh dalam usaha agar taruna sikapnya sesuai dengan yang dianjurkan komunikator agar sikapnya menjadi semaksimal mungkin dengan peraturan khusus taruna yang menjadi dasar dan tidak melanggar komitmen .Penilaian Taruna terhadap komunikator yaitu pengasuh taruna merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam usaha perubahan sikap taruna sehari-hari .Kredibilitas pengasuh Taruna sangat penting karena krdibilitas yang ulung dinilai dan dipercaya oleh taruna akan menimbulkan lebih banyak perubahan sikap daripada oleh sumber2 komunikator(pengasuh) yang berkredibilitas rendah .
pendekatan sistem komunikasi pengasuh taruna
a.sumber komunikasi (pengasuh)
b.informasi (arahan atau perintah )
c saluran yang menyampaikan informasi (apel -pengecekan -pengasuhan )
d.subyek (taruna)
dari pembahasan diatas mengenai teori sikap bila dikaitkan dengan perubahan sikap taruna yang dilakukan secara kolektif”collective behaviour ” yang merupakan sikap kebersamaan mengapa disebut kolektif karena dilakukan secara bersam-sama di dalam resimen korps taruna Akpol yang sudah dibuat sistem dan polanya sesuai aturan khusus Akpol yang berdasarkan Undang-undang no 2 thn 2002 dan KUHP.Peranan pengasuh dalam pembentukan karakter harus mengawasi dan menjaga agar pembentukan sikap taruna dilakukan secara konsisten dan kontinue supaya dapat melahirkan perwira Polri yang berkarakter dan bermoral sesuai dengan harapan masyarakat .

pengalaman memimpin polsek

Standar
IRUP 1 juli 2006 @ Polsek bitung Timur

IRUP 1 juli 2006 @ Polsek bitung Timur

Kepemimpinan tercermin dari TINDAKAN bukan KEDUDUKAN

Aplikasi penerapan gaya Kepemimpinan di POLSEK dan Sat Reskrim

Sesuai dengan pengalaman yang selama ini saya terapkan selama saya saat melaksanakan tugas di lapangan sebagai seorang pimpinan di Polsek dan menjadi Kasat Reskrim ada , dalam memberikan kepemimpinan terhadap anggota adalah dengan cara sebagai berikut :
a.Terhadap anggota yang berpangkat Perwira
Anggota Polsek yang berpangkat perwira di Polsek saya ada 2 orang yaitu waka Polsek dan Kanit Reskrim sedangkan pada saat menjadi Kasat ada 4 orang perwira yaitu kaur Bin Ops dan 3 orang kanit.Dalam memberikan perintah kepada seorang perwira saya selalu memberikan garis besar saja, penjabaran terhadap perintah tersebut dapat dilakukan sendiri oleh perwira tersebut, termasuk dalam pengambilan keputusan, perwira tersebut selalu saya berikan kesempatan untuk ikut menentukan keputusan yang akan di ambil, sehingga perwira tersebut dapat menjabarkan perintah kepada bawahan. Sistem yang saya buat adalah dengan menggunakan paraf konseptor sehingga waka mempunyai tanggung jawab dan saran dalam keputusan saya .

b.Terhadap Bintara
Sebelumnya Bintara ini akan saya bagi ke dalam 2 kelompok yaitu Bintara Tinggi dan Bintara Rendah. Bintara Tinggi berpangkat Ajun Inspektur dua dan Ajun Inspektur Satu dan Bintara rendah adalah Bripda sampai Brigadir kepala.Dalam memberikan perintah kepada seorang Bintara Tinggi misalnya para kanit di Polsek saya selalu memberikan penekanan terhadap perintah yang saya berikan selanjutnya perintah tersebut dapat mereka jabarkan kepada para bintara rendah yang menjadi bawahannya langsung. Sedapat mungkin saya menghindari membeukan perintah langsung kepada para Bintara rendah, hal ini saya lakukan supaya terjalin suatu net work serta hubungan kerja yang bagus secara berjenjang, kecuali dalam hal-hal khusus saya memberikan perintah kepada bintara rendah dan tamtama. Untuk Bintara rendah saya akan sedikit menjabarkan perintah saya sehingga bintara tersebut megetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang menjadi tujuan saya.

c. Kepada Tamtama
Dalam memberikan perintah kepada seorang tamtama saya harus menjelaskan secara detail apa yang harus dilakukan, harus berbuat apa, bagaimana menjalankan perintah tersebut, dengan cara apa, kepada siapa harus bertanya, bagaimana apabila ada kendala, kapan harus melaporkan hasilnya dan lain-lain.

Dalam memimpin anggota yang mempunyai struktur kepangkatan yang berbeda-beda ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar semua perintah serta tercapai apa yang kita inginkan, antara lain :
a.Faktor usia dan pengalaman
Usia dan pengalaman dinas sangat mempengaruhi kemampuan seseorang/ anggota dalam menerima perintah.
b.Faktor pendidikan
Pendidikan seorang anggota juga akan mempengaruhi sejauh mana penerimaan serta penjabaran tugas anggota terhadap perintah yang kita berikan.
c.Faktor psikologis
Faktor ini lebih cenderung kearah individual sehingga kita perlu mengetahui bagaimana karakter masing-masing anggota sehingga kita tidak menyamaratakan dalam memberikan perintah kepada bawahan.

Jika anda ingin bermain bersama sebagai satu tim ,anda harus memperhatikan satu engan yang lain .anda harus mengasihi satu dengan yang lain.